Tidak semua gempa memiliki penyebab yang sama. Dua jenis gempa yang paling sering dibahas adalah gempa tektonik dan gempa vulkanik. Keduanya sama-sama menghasilkan getaran, tetapi berbeda dari segi sumber, kekuatan, dan cakupan dampaknya.
Gempa Tektonik
Penyebab
Gempa tektonik terjadi akibat pelepasan energi secara tiba-tiba ketika batuan di sepanjang batas lempeng atau sesar bergeser. Energi tersebut terkumpul dalam waktu lama akibat pergerakan lempeng.
Karakteristik
Gempa tektonik dapat memiliki magnitudo sangat besar dan dirasakan di area yang luas. Gempa jenis inilah yang paling sering menimbulkan kerusakan signifikan dan, jika terjadi di bawah laut, dapat memicu tsunami.
Gempa Vulkanik
Penyebab
Gempa vulkanik berkaitan dengan aktivitas gunung api, seperti pergerakan magma, tekanan gas, atau retakan batuan di sekitar kantong magma.
Karakteristik
Umumnya gempa vulkanik berkekuatan kecil dan dirasakan di sekitar gunung api saja. Meski demikian, peningkatan jumlah gempa vulkanik menjadi salah satu indikator penting kenaikan aktivitas gunung api.
Tabel Perbandingan Singkat
- Sumber: tektonik dari pergeseran batuan; vulkanik dari aktivitas magma.
- Kekuatan: tektonik bisa sangat besar; vulkanik umumnya kecil.
- Cakupan: tektonik luas; vulkanik terbatas di sekitar gunung.
- Kegunaan pemantauan: gempa vulkanik membantu menilai status gunung api.
Jenis Gempa Lainnya
Selain dua jenis utama, ada gempa runtuhan yang terjadi akibat runtuhnya rongga bawah tanah, serta getaran akibat aktivitas manusia seperti peledakan tambang. Jenis-jenis ini umumnya berskala kecil dan bersifat lokal.
Bagaimana Membedakannya dari Rekaman?
Para ahli membedakan jenis gempa dengan melihat bentuk gelombang pada seismogram. Gempa tektonik umumnya menunjukkan kedatangan gelombang P dan S yang jelas. Beberapa jenis gempa vulkanik memiliki frekuensi lebih rendah atau berupa getaran menerus yang disebut tremor.
Lokasi dan kedalaman
Gempa vulkanik biasanya terjadi di bawah atau di sekitar tubuh gunung api pada kedalaman relatif dangkal. Gempa tektonik dapat terjadi di mana saja sepanjang sesar dan zona subduksi, dengan kedalaman yang bervariasi.
Saat keduanya saling berkaitan
Dalam beberapa kasus, gempa tektonik besar dapat memengaruhi sistem magma di gunung api terdekat. Sebaliknya, aktivitas gunung api dapat memicu retakan batuan yang menghasilkan gempa bercirikan tektonik. Hubungan ini masih terus diteliti oleh para ilmuwan.
Bagi warga di sekitar gunung api, informasi jenis gempa membantu memahami status aktivitas yang diumumkan otoritas.
Ragam Gempa Vulkanik
Gempa vulkanik sendiri terdiri atas beberapa jenis yang dibedakan berdasarkan bentuk gelombang dan penyebabnya. Pengelompokan ini membantu petugas pengamat gunung api menilai apa yang sedang terjadi di dalam tubuh gunung.
Gempa vulkanik dalam
Gempa ini terjadi di kedalaman beberapa kilometer di bawah gunung api. Umumnya dikaitkan dengan retakan batuan akibat dorongan magma yang naik dari kedalaman.
Gempa vulkanik dangkal
Terjadi di dekat permukaan dan dapat menandakan magma atau gas yang sudah mendekati kawah.
Gempa embusan dan tremor
Gempa embusan berkaitan dengan keluarnya gas dari kawah, sedangkan tremor berupa getaran menerus yang sering dikaitkan dengan pergerakan fluida di saluran magma.
Gempa guguran
Di gunung api yang memiliki kubah lava, runtuhan material dari kubah dapat terekam sebagai gempa guguran. Jumlahnya membantu memantau pertumbuhan dan kestabilan kubah lava.
Indonesia: Negeri Dua Jenis Gempa
Indonesia memiliki ratusan gunung api sekaligus banyak zona subduksi dan sesar aktif. Karena itu, kedua jenis gempa ini sama-sama relevan bagi masyarakat. Warga di lereng gunung api perlu memahami gempa vulkanik sebagai bagian dari sistem peringatan aktivitas gunung, sementara warga di wilayah lain perlu bersiap menghadapi gempa tektonik yang dapat terjadi kapan saja.
Perbedaan respons yang dibutuhkan
Respons terhadap gempa tektonik berfokus pada perlindungan diri saat guncangan dan evakuasi setelahnya, termasuk kewaspadaan terhadap tsunami di pesisir. Respons terhadap peningkatan gempa vulkanik berfokus pada kepatuhan terhadap status gunung api, misalnya menjauhi radius berbahaya dan menyiapkan evakuasi bila status meningkat.
Tips Memahami Informasi Gunung Api
- Kenali tingkatan status aktivitas gunung api yang berlaku di Indonesia, mulai dari normal hingga tingkat tertinggi.
- Perhatikan rekomendasi radius aman yang dikeluarkan petugas.
- Jangan memasuki kawasan terlarang meskipun gunung tampak tenang.
- Siapkan masker untuk melindungi diri dari abu vulkanik.
- Ikuti informasi dari pos pengamatan gunung api dan pemerintah daerah setempat.
Dengan memahami perbedaan kedua jenis gempa, kita dapat menafsirkan informasi secara tepat dan menyesuaikan langkah kesiapsiagaan dengan kondisi wilayah masing-masing.
Kesimpulan
Mengenali jenis gempa membantu kita memahami informasi yang disampaikan otoritas. Lanjutkan dengan membaca tentang pergerakan lempeng tektonik dan gempa swarm.


