Saat terjadi gempa, arus informasi di media sosial bergerak sangat cepat. Sayangnya, tidak semua informasi itu benar. Pesan berantai tentang “prediksi gempa susulan besar pada jam tertentu” adalah contoh hoaks yang kerap muncul dan dapat menimbulkan kepanikan.
Ciri-Ciri Hoaks Gempa
Prediksi waktu yang sangat spesifik
Hingga saat ini, ilmu pengetahuan belum dapat memprediksi waktu, lokasi, dan kekuatan gempa secara tepat. Pesan yang menyebutkan tanggal dan jam pasti terjadinya gempa patut dicurigai.
Sumber tidak jelas
Hoaks sering mencatut nama lembaga atau tokoh tanpa tautan atau rujukan resmi. Kalimat seperti “kata teman yang bekerja di lembaga X” adalah tanda bahaya.
Bahasa yang memancing emosi
Penggunaan huruf kapital berlebihan, banyak tanda seru, dan ajakan “sebarkan sebelum dihapus” merupakan pola umum pesan menyesatkan.
Langkah Memverifikasi Informasi
- Periksa akun atau situs resmi lembaga pemantau gempa di wilayah Anda.
- Bandingkan informasi dengan beberapa media kredibel.
- Perhatikan tanggal unggahan; foto atau video lama sering diunggah ulang.
- Tahan diri untuk tidak meneruskan pesan sebelum yakin kebenarannya.
Dampak Hoaks bagi Masyarakat
Hoaks dapat menyebabkan evakuasi yang tidak perlu, kemacetan, hingga kecelakaan. Sebaliknya, hoaks juga bisa membuat masyarakat mengabaikan peringatan resmi karena sudah terlalu sering mendengar kabar palsu.
Peran setiap individu
Setiap orang dapat menjadi penyaring informasi. Dengan tidak meneruskan kabar yang meragukan, kita ikut menjaga ketenangan lingkungan.
Contoh Pola Hoaks yang Berulang
Pesan “gempa susulan lebih besar malam ini”
Pesan semacam ini biasanya beredar beberapa jam setelah gempa utama. Isinya menyebut waktu tertentu dan meminta warga tidur di luar rumah. Karena gempa tidak dapat diprediksi secara tepat, pesan seperti ini tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Video lama yang diunggah ulang
Rekaman kerusakan atau gelombang dari kejadian di tempat lain sering diklaim sebagai peristiwa terbaru. Perhatikan detail seperti bahasa, papan nama, atau cuaca dalam video untuk menilai keasliannya.
Klaim tanda-tanda mistis
Fenomena seperti bentuk awan tertentu sering dikaitkan dengan datangnya gempa. Hingga kini tidak ada bukti ilmiah yang kuat bahwa bentuk awan dapat dijadikan penanda gempa. Mengandalkan klaim seperti ini justru dapat mengalihkan perhatian dari langkah kesiapsiagaan yang nyata.
Jika menerima pesan yang meragukan dari grup keluarga, sampaikan koreksi dengan sopan disertai rujukan resmi. Cara ini lebih efektif daripada sekadar menyebutnya bohong.
Mengapa Hoaks Mudah Menyebar Saat Bencana?
Situasi bencana menciptakan rasa takut dan ketidakpastian. Dalam kondisi ini, orang cenderung mencari informasi sebanyak mungkin dan ingin segera melindungi orang-orang terdekat. Keinginan baik tersebut sering membuat seseorang langsung meneruskan pesan tanpa memeriksa kebenarannya terlebih dahulu.
Faktor psikologis
Informasi yang menakutkan lebih mudah diingat dan dibagikan dibandingkan informasi yang menenangkan. Pesan dengan nada darurat memicu dorongan untuk bertindak cepat. Selain itu, pesan dari orang yang kita kenal cenderung lebih dipercaya, padahal pengirimnya mungkin juga hanya meneruskan dari sumber lain.
Faktor teknologi
Aplikasi percakapan memungkinkan pesan menyebar ke ratusan grup dalam hitungan menit. Pesan yang diteruskan berulang kali sering kehilangan konteks aslinya, termasuk tanggal dan sumber. Foto atau video lama pun dapat dengan mudah dipotong dan diberi keterangan baru yang menyesatkan.
Panduan Cepat Memeriksa Pesan Berantai
Gunakan pertanyaan sederhana berikut setiap kali menerima informasi gempa yang meragukan:
- Siapa sumbernya? Apakah ada nama lembaga resmi beserta kanal resminya, atau hanya “katanya”?
- Kapan dibuat? Apakah pesan mencantumkan tanggal dan waktu yang jelas?
- Apakah masuk akal secara ilmiah? Klaim yang menyebut waktu pasti gempa sudah pasti tidak dapat dipertanggungjawabkan.
- Apakah media kredibel memberitakannya? Informasi penting biasanya juga disampaikan oleh media arus utama.
- Apakah pesan meminta Anda menyebarkannya? Ajakan mendesak untuk menyebarkan merupakan ciri umum hoaks.
Memeriksa foto dan video
Untuk foto dan video, perhatikan detail visual seperti rambu jalan, bahasa pada papan nama, jenis kendaraan, atau kondisi cuaca. Detail-detail tersebut dapat menunjukkan bahwa rekaman berasal dari lokasi atau waktu yang berbeda. Fitur pencarian gambar terbalik juga dapat membantu menemukan sumber asli sebuah foto.
Membangun Kebiasaan Informasi yang Sehat
Kebiasaan baik dapat dimulai dari hal kecil. Simpan daftar kanal informasi resmi di ponsel sebelum bencana terjadi, sehingga Anda tahu ke mana harus mencari informasi ketika dibutuhkan. Di grup keluarga atau lingkungan, sepakati bersama bahwa informasi bencana hanya dibagikan jika berasal dari sumber resmi.
Peran tokoh masyarakat, guru, dan pengurus lingkungan juga sangat penting. Mereka dapat menjadi rujukan lokal yang dipercaya warga untuk meluruskan kabar yang keliru. Semakin banyak orang yang terbiasa memeriksa informasi, semakin sulit hoaks berkembang di lingkungan kita.
Kesimpulan
Literasi informasi adalah bagian penting dari kesiapsiagaan bencana. Pelajari dasar ilmiah gempa di rubrik Edukasi Gempa agar Anda lebih mudah mengenali klaim yang tidak masuk akal.


